RSS : Articles / Comments


Lokapaksa Desa Kucinta

3/31/2010, Posted by Kelompok Ternak Pucak Manik, No Comment


DESAKU YANG KUCINTA

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai tolanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai

Ketika Lagu ini terngiang di telingaku, hatiku rindu pada kampung halamanku, pengen segera kembali berkumpul bersama keluargaku tercinta dan sahabat-sahabat kecilku yang kini nun jauh disana.
Desaku Desa Lokapaksa, tempatku berpijak menggantungkan hidup, aku bangga pada desaku dengan segala kekurangan dan kebihan yang ada di desaku.Tulisan ini aku persembahkan untuk saudara-saudaraku warga desa lokapaksa dimanapun berada, baik yang kini mengabdi untuk negri di berbagai belahan bumi ini.

2.1 Luas Wilayah dan Letak Geografis Desa Lokapaksa
Melihat luas wilayah Desa Lokapaksa yang sangat luas jika dibandingkan desa-desa yang ada di Kecamatan Seririt, yakni : 28, 84 KM2, sudah tentu juga di ikuti dengan potensi jumlah penduduk mencapai 10.245 jiwa (data BPS Kabupaten Buleleng - Kabupaten Buleleng Dalam Angka 2009).

Secara Geografis batasan Wilayah Desa Lokapaksa adalah sebagai Berikut :
Sebelah Barat : Desa Umeanyar dan Desa Pangkung Paruk
Sebelah Barat Laut : Desa Umeanyar, Laut Bali
Sebelah Utara : Laut Bali
Sebelah Timur Laut : Desa Pengastulan
Sebelah Timur : Kelurahan seririt, Desa Patemon
Sebelah Tenggara : Desa Ringdikit
Sebelah Selatan : Desa Ularan
Sebelah Barat Daya:Desa Unggahan dan Kawasan Hutan Bali Barat.
Kini Kepala desa Lokapaksa Bernama : I Gusti Made Kusumayasa. Desa lokapaksa dengan wilayah yang luas, secara administrasi desa lokapaksa dibagi menjadi 9 (sembilan) Banjar Dinas Diantaranya :
Read More - Lokapaksa Desa Kucinta

Sapi Bali Flasma Nutfah Asli Indonesia

3/22/2010, Posted by Kelompok Ternak Pucak Manik, One Comment

Pejantan Sapi Bali

Pulau Bali dengan segala keunikannya, kecantikan dan keindahan alam bali serta keramah tamahan penduduk bali, dengan menyandang berbagai julukan seperti : Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, Morning of The World, Paradise Island, dan lain sebagainya merupakan wujud nyata dari indahnya alam bali dengan adat istiadat serta kebudayaan bali.

Di bali dengan segala keindahan pulau bali terkandung kekayaan alam khas bali seperti : Burung jalak Bali yang berhabitat di hutan Bali barat, Anjing Kintamani, Harimau Bali yang telah dinyatakan punah sejak tahun 1991 dan Sapi bali Sebagai Salah Satu Flasma Nutfah  Asli Indonesia yang Ada di Pulau Bali.
Read More - Sapi Bali Flasma Nutfah Asli Indonesia

Pemanasan Global & Perubahan Iklim

3/18/2010, Posted by Kelompok Ternak Pucak Manik, No Comment

Bumi merupakan tempat tinggal bagi kehidupan, baik manusia maupun mahluk hidup yang lainnya dimana kita sebagai manusia memiliki sifat ketergantungan dan keterkaitan dengan alam dan lingkungan maka sudah seharusnyalah kita menjaga dengan penuh kesungguh-sungguhan, agar kehidupan di muka bumi ini terus berlangsung dengan baik.

Bumi ini untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang inilah yang penting untuk dibicarakan, dimana bumi yang melibatkan persoalan lingkungan hidup sebagai bagian yang tidak boleh dilupakan.

Kualitas lingkungan hidup semakin menurun dari hari ke hari, Bumi telah menjadi lebih hangat sekitar 1ºF (0.5ºC) dari 100 tahun yang lalu. Tapi mengapa ? dan bagaimana ? bumi bisa saja menjadi hangat secara alami, tetapi banyak ahli iklim dunia yang percaya bahwa tindakan manusia telah membantu membuat bumi menjadi lebih hangat. Internasionalisasi modal telah menjadi ancaman paling besar terhadap bumi dan lingkungan hidup secara lebih khusus. Watak dasar kapitalisme yang eksploitatif dan akumulatif telah menjadi ancaman terbesar bagi bumi dan lingkungan hidup. Eksploitasi tambang, mineral, gas, hutan, laut, air untuk mengejar apa yang dinamakan sebagai pertumbuhan ekonomi, telah menyebabkan sebuah kerja keras habi - habisan tanpa terkendali.

Read More - Pemanasan Global & Perubahan Iklim

Nyepi Bentuk Keselarasan Alam Mikro & Makro

3/16/2010, Posted by Kelompok Ternak Pucak Manik, No Comment

NYEPI berasal dari kata sepi (sunyi, senyap), Hari Raya Nyepi salah satu hari raya besar umat Hindu di Bali, filsafat (tattwa) dan susila (etika) yang menjadi acuan semua upacara hari raya Hindu di Bali. Nilai-nilai budaya Hindu yang diakui di dalam upacara yadnya termasuk upacara yadnya pada hari raya Nyepi merupakan suatu kekuatan spiritual yang dapat membentuk jati diri umat, sebagai wahana pengendalian diri dan dapat sebagai penguat integrasi umat manusia dalam arti yang sangat universal.


Hari raya Nyepi sebagai hari raya umat Hindu yang merupakan puncak identitas umat Hindu karena hari raya suci ini satu-satunya yang diakui sebagai hari libur nasional yang dimulai tahun 1983.


Hari raya Nyepi jatuh dalam satu tahun sekali tepatnya pada tahun baru saka. Pada saat itu matahari menuju garis lintang utara, saat Uttarayana yang disebut juga Devayana yakin waktu yang baik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Menurut lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang menyatakan bahwa, Tawur (upacara) Bhuta Yadnya atau Tawur Kesanga sebaiknya diadakan pada tilem bulan Chaitra (Tilem Kesanga), sehari sebelum hari raya Nyepi dirayakan.


Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan “'Tahun Baru Hindu” berdasarkan penanggalan/kalender Ḉaka, yang mana dimulai pada tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Ḉaka di Bali dimulai dengan sepi, dari nol....! Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, bahkan pelayanan umum, seperti Bandara Internasional pun tutup, kecuali rumah sakit.


Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan “Buwana Alit” (alam manusia/microcosmos) dan “Buwana Agung/macrocosmos” (alam semesta).
Sebelum Hari Raya Nyepi, ada beberapa rangkainan upacara yang dilakukan umat Hindu(khususnya di Bali), diantaranya : Melasti, Tawur (“Pecaruan”) dan Pengrupukan.


MELASTI
Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis.
Pada hari ini, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirtha amerta) dan bisa menyucikan segala "leteh" Kotor) di diri manusia dan alam.
Read More - Nyepi Bentuk Keselarasan Alam Mikro & Makro

Tumpek Wariga Hari Bumi Ala BALI

3/05/2010, Posted by Kelompok Ternak Pucak Manik, 2Comments

"Dadong-dadong Kakine Dija..?, Tiyang Jani Mapangarah, Buwin Selae Dina Galungan, Mebuwah Nyen Apang Ngeed, Ngeed, Ngeed...!"
Lalu diperciki tirtha pada tanaman dan di isi tape, kuwe lak-klak, bubur dan lain sebagainya pada tanaman tersebut lengkap dengan ritual lainnya.


Setiap kali perayaan hari Tumpek Wariga, doa sederhana itu senantiasa terngiang di telinga Kita Ketika Saya masih kecil, Niyang/Nenek memang sering mengajak saya ikut mengupacarai sejumlah pepohonan dirumah, terutama yang menghasilkan buah. Doa itu mengandung penghargaan agar sang pohon bisa berbuah lebat (nged) sehingga bisa digunakan untuk keperluan upacara hari raya Galungan yang jatuh 25 hari berikutnya.


Dalam konsepsi Hindu, saat Tumpek Pengatag - dikenal juga sebagai Tumpek Wariga, Tumpek Uduh atau Tumpek Bubuh dihaturkan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sangkara, Dewa Penguasa Tumbuh-tumbuhan yang dikonkretkan melalui mengupacarai pepohonan. Memang, menurut tradisi susastra Bali, yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan hidup dan memberikan hasil kepada manusia adalah Hyang Sangkara. Karenanya, ucapan syukur dan penghormatan kepada Hyang Sangkara mesti dilakukan manusia dengan mengasihi segala jenis tumbuh tumbuhan. Dengan demikian, sejatinya, perayaan hari Tumpek Pengatag memberi isyarat dan makna mendalam agar manusia mengasihi dan menyayangi alam dan lingkungan yang telah berjasa menopang hidup dan penghidupannya. Pada Tumpek Pengatag, momentum kasih dan sayang kepada alam itu diarahkan kepada tumbuh-tumbuhan. Betapa besarnya peranan tumbuh-tumbuhan dalam memberi hidup umat manusia. Hampir seluruh kebutuhan hidup umat manusia bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pangan, sandang hingga papan.
Read More - Tumpek Wariga Hari Bumi Ala BALI

Tumpek Kandang Wujud Kasih Terhadap Binatang

3/05/2010, Posted by Kelompok Ternak Pucak Manik, One Comment

"Berbuatlah agar semua orang, binatang-binatang dan semua makhluk hidup berbahagia"
(Yajurveda XVI.48)


Saniscara Kliwon Wuku Uye, masyarakat Bali (Hindu) merayakan hari suci Tumpek Uye atau disebut juga Tumpek Kandang atau Tumpek Andang. Awam kerap memaknai hari ini sebagai hari untuk memuliakan segala jenis hewan sebagai bagian penting ekosistem penopang kehidupan di dunia. Inilah satu dari setumpuk tradisi Bali yang memberikan pesan agar manusia senantiasa bersahabat dengan alam dengan segenap isinya. Apa sebetulnya makna hari Tumpek Kandang ? lalu, apa Relevansinya dengan konteks kekinian ?

BERBAHAGIALAH masyarakat Bali yang mewarisi beragam tradisi jaga lingkungan yang unik sekaligus otentik. 
Tradisi-tradisi berkesadaran lingkungan mengajarkan manusia Bali bagaimana semestinya merawat kelestarian alam dengan menjaga keseimbangan ekosistemnya, senantiasa mewujudkan harmoni hubungan manusia dengan alam dengan segenap isinya. 
Hari raya tumpek merupakan perwujudan dari tradisi berkesadaran lingkungan itu. Selain Tumpek Pengatag yang dikenal sebagai hari untuk menyucikan tumbuh-tumbuhan, manusia Bali juga mengenal Tumpek Kandang sebagai hari untuk memuliakan hewan.
Read More - Tumpek Kandang Wujud Kasih Terhadap Binatang
Posting Baru Posting Lama Beranda