Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Upakara Pertanian

Selaraskan Hubungan Manusia VS Sang Pencipta

Sebagaimana tertuang dalam Visi dan Misi Kelompok Tani Ternak Pucak Manik yakni : VISI : “Peningkatan Kesejahteraan Anggota Kelompok Ternak Pucak Manik Dengan Berlandaskan Konsep Tri Hita Karana” MISI : "Meningkatkan Seradha Bhakti Kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa, dengan dilandasi oleh semangat rasa persaudaraan antar anggota kelompok, didalam menggali segenap potensi diri dan alam sekitar kita dengan konsep berwawasan lingkungan, dalam mencapai kesejahteraan bersama". Dari Visi dan Misi tersebut diatas terdapat penyelarasan hubungan manusia dengan sang Pencipta (Tuhan Yang Maha Esa). Ini Point Pertama, walaupun hal ini tidak tampak real namun bila di hayati dengan baik akan mampu menjadikan sebuah spirit POSITIF dalam sebuah pengembangan pembangunan kelompok. Dari tetua kami di bali mempercayai sebuah konsep keselarasan hubungan antara Manusia, Sang Pencipta dan Alam, yang mana konsep inilah yang di sebut dengan "Tri Hita Karana", sebagaimana yang menj...

Upacara "Nangluk Merana" Di Bali

Upacara dan upakara dalam bidang pertanian di bali sudah dikenal dari zaman dulu hingga di era kekinian masih tetap lestari, salah satu upacara dan upakara dibidang pertanian di bali diantaranya : " Tumpek Kandang atau tumpek uye " yang jatuh setiap enam bulan sekali yaitu pada setiap Sabtu Umanis wuku Uye , dengan tujuan untuk menghormati dewa siwa dalam manifestasinya sebagai sang rare angon yang merupakan penguasa semua binatang dan " Tumpek Wariga, Tumpek Uduh atau Tumpek Bubuh " yakni upacara yang jatuh setiap 6 bulan sekali pada Sabtu Umanis Wuku Wariga , Tujuan upacara ini yakni memberikan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sangkara, Dewa Penguasa Tumbuh-tumbuhan. Masih banyak lagi tradisi di bali yang erat kaitanya dengan dunia pertanian dan salah satunya yakni Upacara Nagluk Merana. Upacara Nagluk Merana bermaksud untuk menghindari segala mara bahaya atau gangguan yang menyerang lahan pertanian atau perkebunan, apakah...

Nyepi Bentuk Keselarasan Alam Mikro & Makro

NYEPI berasal dari kata sepi (sunyi, senyap), Hari Raya Nyepi salah satu hari raya besar umat Hindu di Bali, filsafat (tattwa) dan susila (etika) yang menjadi acuan semua upacara hari raya Hindu di Bali. Nilai-nilai budaya Hindu yang diakui di dalam upacara yadnya termasuk upacara yadnya pada hari raya Nyepi merupakan suatu kekuatan spiritual yang dapat membentuk jati diri umat, sebagai wahana pengendalian diri dan dapat sebagai penguat integrasi umat manusia dalam arti yang sangat universal. Hari raya Nyepi sebagai hari raya umat Hindu yang merupakan puncak identitas umat Hindu karena hari raya suci ini satu-satunya yang diakui sebagai hari libur nasional yang dimulai tahun 1983. Hari raya Nyepi jatuh dalam satu tahun sekali tepatnya pada tahun baru saka. Pada saat itu matahari menuju garis lintang utara, saat Uttarayana yang disebut juga Devayana yakin waktu yang baik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang menyatakan b...

Tumpek Wariga Hari Bumi Ala BALI

"Dadong-dadong Kakine Dija..?, Tiyang Jani Mapangarah, Buwin Selae Dina Galungan, Mebuwah Nyen Apang Ngeed, Ngeed, Ngeed...!" Lalu diperciki tirtha pada tanaman dan di isi tape, kuwe lak-klak, bubur dan lain sebagainya pada tanaman tersebut lengkap dengan ritual lainnya. Setiap kali perayaan hari Tumpek Wariga, doa sederhana itu senantiasa terngiang di telinga Kita Ketika Saya masih kecil, Niyang/Nenek memang sering mengajak saya ikut mengupacarai sejumlah pepohonan dirumah, terutama yang menghasilkan buah. Doa itu mengandung penghargaan agar sang pohon bisa berbuah lebat (nged) sehingga bisa digunakan untuk keperluan upacara hari raya Galungan yang jatuh 25 hari berikutnya. Dalam konsepsi Hindu, saat Tumpek Pengatag - dikenal juga sebagai Tumpek Wariga, Tumpek Uduh atau Tumpek Bubuh dihaturkan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sangkara, Dewa Penguasa Tumbuh-tumbuhan yang dikonkretkan melalui mengupacarai pepohonan. Memang, menurut...

Tumpek Kandang Wujud Kasih Terhadap Binatang

"Berbuatlah agar semua orang, binatang-binatang dan semua makhluk hidup berbahagia" (Yajurveda XVI.48) Saniscara Kliwon Wuku Uye, masyarakat Bali (Hindu) merayakan hari suci Tumpek Uye atau disebut juga Tumpek Kandang atau Tumpek Andang. Awam kerap memaknai hari ini sebagai hari untuk memuliakan segala jenis hewan sebagai bagian penting ekosistem penopang kehidupan di dunia. Inilah satu dari setumpuk tradisi Bali yang memberikan pesan agar manusia senantiasa bersahabat dengan alam dengan segenap isinya. Apa sebetulnya makna hari Tumpek Kandang ? lalu, apa Relevansinya dengan konteks kekinian ? BERBAHAGIALAH masyarakat Bali yang mewarisi beragam tradisi jaga lingkungan yang unik sekaligus otentik.  Tradisi-tradisi berkesadaran lingkungan mengajarkan manusia Bali bagaimana semestinya merawat kelestarian alam dengan menjaga keseimbangan ekosistemnya, senantiasa mewujudkan harmoni hubungan manusia dengan alam dengan segenap isinya.  Hari raya tumpek merupakan perwujuda...