RSS : Articles / Comments


Kebun HMT di Lahan Kering

6/12/2012, Posted by Kelompok Ternak Pucak Manik, 4Comments

Kami Kelompok Tani Ternak Pucak Manik yang merupakan kelompok inti/kelompok pelaksana sektor Peternakan, Gapoktan Tri Loka Amertha dalam program Sistem Pertanian Terintegrasi (SIMANTRI) Tahun 2010, Sejalan dengan Visi dan Misi Kelompok Tani Ternak Pucak Manik seperti yang tertuang dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), maka pengurus menyusun sebuah rencana kerja, dalam rencana kerja tersebut tertuang tahapan-tahapan pembangunan kelompok, baik pembangunan fisik maupun pembangunan non fisik. Dengan mengacu pada Rencana Kerja Kelompok tersebut kami masih banyak mengalami kendala dan berbagai masalah terutama dalam penyediaan Hijauan Pakan Ternak (HPT).

Dalam usaha peternakan sapi bali kita tidak bisa terlepas dari permasalahan ketersediaan Hijauan Pakan Ternak (HPT) yang berkelanjutan, terutama disaat musim kemarau tiba yang merupakan salah satu musim kesulitan dalam ketersediaan pakan ternak. Ketersediaan Hijauan Pakan Ternak (HPT) sebagai pakan ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan baik buruknya perkembangan ternak ruminansia khususnya ternak sapi bali yang ada di daerah kami, karena pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi usaha peternakan dan berpengaruh langsung terhadap produksi, produktivitas dan kesehatan ternak itu sendiri.


Dalam sistem usaha peternakan sapi, tanaman pakan merupakan sumber pakan hijauan yang mutlak diperlukan dan harus tersedia baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Ketersediaan hijauan pakan juga merupakan faktor langsung yang berhubungan dengan keberlanjutan dan kestabilan usaha ternak sapi bali. Kebutuhan hijauan pakan pakan per ekor sapi bali sebanyak 6,25 kg bahan kering per hari untuk hidup pokoknya atau setara dengan hijauan segar ±10% dari berat tubuhnya. Selama ini sebagian besar hijauan pakan yang diberikan kepada ternak di kelompok kami KTT. Pucak Manik berupa rumput lokal atau rumput alam, baik yang berasal dari padang penggembalaan umum maupun dari tempat-tempat lain seperti pematang sawah, pinggir jalan, pinggir hutan, saluran irigasi atau perkebunan.

Rendahnya sebaran dan ketersediaan HMT sepanjang tahun menjadi salah satu penyebab sulit berkembangnya populasi dan produktivitas ternak sapi di daerah Kami, karena peternak tidak dapat mempertahankan ternaknya untuk dipelihara (terutama musim kemarau) akibat kurangnya sumber pakan utama tersebut. Selama ini di wilayah kami belum ada yang mengusahakan Hijauan Pakan Ternak (HPT) secara komersial sebagaimana yang terdapat di daerah-daerah lainnya, padahal apabila ini dilirik oleh para pengusaha dengan populasi sapi yang ada di tingkat kelompok dan diluar kelompok di desa kami yang cukup banyak maka akan bisa meraih keuntungan ekonomi yang tinggi. Permasalahan utama dalam Penyediaan HMT di kelompok Kami adalah karena beberapa faktor diantaranya : fluktuasi produksi karena musim, rendahnya kualitas hijauan terutama rumput lokal, tingginya laju konversi lahan pangonan, dan sebaran lahan dan sumber bibit tanaman pakan di masyarakat sangat terbatas.
Desa Lokapaksa dengan topografi wilayah yang terdiri dari daerah bukit, dataran rendah dan lautan serta berada pada iklim yang panas, merupakan daerah yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan dalam sektor pertanian dan peternakan. Untuk wilayah Desa yang berada pada daerah bagian atas/daerah perbukitan yang salah satunya wilayah Banjar Dinas Bukit Sakti, tempat Berdirinya Kelompok Tani Ternak Pucak Manik.

GAMBARAN UMUM POTENSI DESA
Melihat luas wilayah Desa Lokapaksa yang sangat luas jika dibandingkan desa-desa yang ada di Kecamatan Seririt, yakni : 28, 84 KM2, sudah tentu juga di ikuti dengan potensi jumlah penduduk mencapai 10.245 jiwa (data BPS Kabupaten Buleleng - Kabupaten Buleleng Dalam Angka 2009).
 

TOPOGRAFI & KEADAAN TANAH
Ditinjau dari segi topografi, desa lokapaksa merupakan desa dengan topografi Landai dari sisi utara, menuju pusat desa dan terdiri dari daerah berbukit-bukit mulai dari ketinggian 7–300 M dpl pada sisi selatan sampai sisi barat desa lokapaksa. Desa Lokapaksa jika kita tinjau dari karakteristik pertanian dan topografi wilayahnya maka dapat di bagi menjadi 3 (tiga) bagian wilayah, yakni :
1.  Wilayah Desa Lokapaksa Bagian Atas/bagian Pegunungan yakni : daerah yang berbatasan dengan wilayah hutan bali barat.
2.  Wilayah Desa Lokapaksa bagian tengah merupakan wilayah dengan tanaman perkebunan dan palawija.
3.  Wilayah Desa Lokapaksa bagian bawah merupakan wilayah persawahan dengan tanaman padi palawija, dan perkebunan anggur.
 

Ditinjau dari segi Keadaan Tanah, desa lokapaksa dengan Tingkat Kesuburan Tanah yang Sedang, dengan Struktur Tanah Liat Berpasir, dengan PH Tanah antara 4 – 6,5 dengan Kemiringan Tanah Datar, Landai, Kemiringan 45 derajat, dengan Keadaan bahan Organik yang Sedang. Ditinjau dari segi Iklim, Menurut Smith dan Perguson Desa Lokapaksa merupakan desa dengan Iklim Tipe D (Iklim Kering), dengan 5 (lima) Bulan Basah yaitu dari bulan Nopember sampai dengan bulan Maret, dan 7 Bulan Musim Kering yaitu dari bulan April sampai dengan Oktober.
 

Potensi Hijauan Makanan Ternak yang mungkin dikembangkan di desa lokapaksa adalah sebagai berikut :
STRATA I : Rumput Gajah, King Grass, Rumput Gamba (Andropogon gayanus), Rumput Setaria (Setaria Sphacelata), dll
STRATA II : Kacang Pintoi (Arachis pintoi), Stylo (Stylosanthes guinensis), dll
STRATA III : Gamal (Gliricidia sepium), Turi (Sesbania grandiflora), Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala), Waru, dll


PENGEMBANGAN KAWASAN HIJAUAN PAKAN TERNAK
Dari uraian diatas maka kami mengembangkan sebuah kawasan Hijauan Pakan Ternak (HPT) secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sepanjang musim dengan memanfaatkan lahan tegalan/lahan kritis yang selama ini belum termanfaatkan, disamping sumber-sumber pakan ternak yang berasal dari limbah pertanian, dengan tujuan ketersediaan Hijauan Pakan ternak yang berkwalitas dan kwantitas yang memadai sepanjang musim.

Konsep yang dipakai adalah memenuhi 3 (tiga) Strata, yang mana STRATA I untuk memenuhi kebutuhan pakan disaat musim hujan, STRATA II untuk memenuhi kebutuhan pakan disaat awal musim kering dan STRATA III untuk memenuhi kebutuhan pakan disaat musim kering dan sulit pakan.
STRATA I
STRATA I untuk memenuhi kebutuhan pakan disaat musim hujan, maka kami akan menanam beragam rumput yang sesuai dengan potensi wilayah yakni di lahan kering dengan menanam 
1. Rumput Raja (King Grass) dan Rumput Gajah

Rumput Raja (King Grass) Rumput raja adalah jenis rumput baru yang belum banyak dikenal, yang merupakan hasil persilangan antara pennisetum purpereum (rumput gajah) dengan pennisetum tydoides, rumput ini mudah ditanam, dapat tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi, menyukai tanah subur dan curah hujan yang merata sepanjang tahun. Produksi rumput ini jauh lebih tinggi dibandingkan rumput lainnya.
Penanaman rumput gajah dapat dilakukan dengan stek maupun sobekan rumput stek terlebih dahulu dipotong-potong sepanjang 25-30 cm atau paling sedikit terdiri dari dua mata. Sedangkan bila menggunakan sobekan rumpun anak dipilih rumpun muda yang tingginya 20-25 cm. Kebutuhan bibit per hektar dengan jarak tanam 1 x 1 m adalah sebanyak 10.000 stek atau rumpun. Waktu tanam yang baik adalah pada awal sampai pertengahan musim hujan, sehingga pada musim kemarau nanti akan tanaman sudah dalam dan cukup kuat.
Pada penanaman dengan stek harus diperhatikan. Mata tunas jangan sampai terbalik karena akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Stek dapat langsung ditancapkan setengahnya ke dalam tanah dengan tegak lurus atau miring serta jarak tanam 1 x 1 m. Untuk penanaman dengan sobekan rumpun, terlebih dahulu dibuat lobang sedalam 20 cm. Pada tanah miring tanah tidak perlu diolah, cukup dibuat lubang-lubang menurut kontur tanahnya sedemikian rupa sehingga sekaligus dapat berfungsi ganda sebagai penahan erosi. Jarak tanam dalam baris untuk tanah miring dianjurkan 50 cm dan jarak antar baris adalah 1 meter. Pemupukan pertama dilakukan pada waktu pengolahan (perataan) tanah yaitu dengan menggunakan 10 ton pupuk kandang/ha, 50 kg kcl dan 50 kg sp36/ha.
Pemupukan selanjutnya dilakukan setelah tiga kali pemotongan dengan dosis yang sama. Tanaman rumput raja memerlukan pemeliharaan yang teratur untuk memperoleh hasil yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat. Untuk itu perlu dilakukan penyiangan terhadap gulma agar tidak terjadi persaingan. Pada waktu penyiangan perlu diadakan penggemburan tanah dan pembumbunan disekitar rumpun tanaman.

Pemotongan pertama dapat dilakukan pada umur tanaman 2-3 bulan sebagai potong paksa, ini bertujuan untuk menyamakan pertumbuhan dan merangsang pertumbuhan jumlah anakan. Pemotongan berikutnya dilakukan sekali setiap 6 minggu, kecuali pada waktu musim kemarau waktu potong sebaiknya diperpanjang. Tinggi pemotongan 10-15 cm dari permukaan tanah. Kebutuhan ternak sapi akan hujauan segar menurut perkiraan aksar yaitu 10% dari berat badan per hari per ekor. Apabila berat seekor sapi perah 600 kg, maka kebutuhan hijauan per hari adalah 60 kg, jadi kebutuhan akan hijauan per tahun 365 x 80 kg = 21,9 ton.


2. Rumput Setaria (Setaria Sphacelata)
Rumput Setaria (Setaria Sphacelata) atau dikenal dengan nama Rumput lampung atau Golden Timothy merupakan jenis rumput yang berasal dari Afrika, Fungsi tanaman Rumput Setaria (Setaria Sphacelata) adalah sebagai Penutup tanah, Rumpu lapangan, padang penggembalaan.
Gambaran umum dari Rumput Setaria (Setaria Sphacelata) adalah :
- Tumbuh tegak membentuk rumput
- Tinggi tanaman dapat mencapai 2 m
- Daun lunak, lebar agak berbulu pada permukaan atasnya terutama dekat batang
- Pangkal batang berwarna kemerah-merahan
- Bunga bersusun dalam tandan warna coklat keemasan
- Sangat disukai ternak
- Sangat responsif terhadap pemupukan nitrogen
- Tanah kering
- Baik tumbuh di dataran tinggi (0-2.000 m atau lebih)
Persyaratan tumbuh
Rumput Setaria (Setaria Sphacelata) adalah :
- Tinggi tempat 200-300 m dari permukaan laut
- Struktur tanah sedang sampai berat
- Curah hujan tahunan tidak kurang dari 760 mm
Pengelolaan
Rumput Setaria (Setaria Sphacelata) adalah :
- dapat ditanam dalam barisan berjarak 90-120 cm
- Dapat ditanam bersama dengan leguminsoa Desmodium intortum, dan lamtoro
Perbanyakan
Rumput Setaria (Setaria Sphacelata) adalah :
- biji (4-10 kg/ha)
- Sobekan rumput
Produksi
Rumput Setaria (Setaria Sphacelata) adalah :
- Benih 112 kg/ha biji
- 60-100 ton hijauan/ha/tahun



STRATA II
STRATA II untuk memenuhi kebutuhan pakan disaat awal musim kering, dimana rumput sudah tidak bisa lagi berproduksi secara maksimal, maka akan ditanam beberapa jenis tanaman leguminosa yang merambat
1. Stylo (Stylosanthes guinensis)
Stylo (Stylosanthes guinensis) merupakan tanaman berumpun yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, tanaman ini memiliki fungsi sebagai : penutup tanaman, sebagai hijauan potongan, sebagai tanaman untuk padang penggembalaan yang bisa tumpangsari dengan palawija.

Gambaran umum dari tanaman ini adalah :
- Tumbuh tegak atau agak rebah
- Membentuk rumpun yang berdaun lebat
- Batang dapat mencapai tinggi 1,5 m, daun relative kecil berbentuk ellips, sempit agak panjang, sedikit berbuku
- Bunga berwarna kuning, kecil – kecil berbentuk kupu-kupu

Persyaratan tumbuh
dari tanaman ini adalah :
- Tinggi tempat 0 – 1.000 m dpl
- Tumbuh pada struktur tanah ringan sampai berat
- Dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah dengan curah hujan tahunan 890 – 4065 mm
- Tanah kering, terhadap tanah asam, berdrainase buruk, tapi kurang tahan lindungan
 
Pengelolaan tanaman dari tanaman ini adalah :
- Dapat ditanam bersama rumput molasse, benggala, bede,pangola dan rumput para
- Pemotongan pertama pada saat tanaman setinggi 60 – 90 cm
- Pemotongan tiap 1,5 – 2 bulan
 
Perbanyakan dari tanaman ini adalah :
- dengan biji 2 -5 kg/ha, dengan stek
- penanaman dengan stek 3 – 5 stek tiap lubang
 
Produksi dari tanaman ini adalah :
- Produksi biji mencapai 300 kg/ha/th
- Produksi hijauan sekitar 40 ton/ha/tahun

2. sdsds

STRATA III
STRATA III untuk memenuhi kebutuhan pakan disaat musim kering dan sulit pakan, dengan memanfaatkan tanaman pepohonan yang mampu bertahan pada musim kering sebagai pakan ternak.
1. Lamtoro (Leucaena leucocephala)
Lamtoro (Leucaena leucocephala) termasuk jenis pohon legum yang bersifat perennial dengan perakaranyang dalam. Dapat tumbuh dengan baik pada daerah kering Pertumbuhannya relatif cepat, tahan terhadap pemangkasan yang berulang-ulang.

Manfaat Lamtoro Daun, ranting muda, bunga, buah, bahkan bijinya merupakan bahan baku pakan ternak yang bermutu tinggi. Tanaman ini juga sering digunakan sebagai tanaman pelindung, pagar hidup dan kayunya sangat baik serta potensial sebagai sumber kayu bangunan. Tanda dan sifat lamtoro berdaun dan berbiji banyak, berbiji polong, bunga bulat, tumbuh tinggi, cepat dipanen dan menyuburkan tanah. 


Pemotongan/pemanenan pada tahun pertama dilakukan setelah tanaman berumur 6 bulan. Panen berikutnya 2-3 bulan sekali. Banyaknya daun lamtoro yang dihasilkan tergantung pada umur tanaman, kesuburan tanah, dan iklim Panen biji diperoleh setelah tananman berumur satutahun. Pemangkasan daun jangan sampai lebih rendah dari satu meterdi atas permukaan tanah. Daun dan bijinya lamtoro dapat diberikan pada ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, domba dan kambing baik secara segar maupun dikeringkan.

Dapat diberikan sebagai pakan tunggal atau dicampur dengan rumput-rumputan. Penggunaan daun lamtoro untuk menggantikan hijauan sebaiknya tidak melebihi dari 50 % kebutuhan hijauan pakan.   



2. Turi ( Sesbania Grandiflora )
Daun turi merupakan hijauan makanan ternak yang kaya akan kandungan protein kasar. Komposisi zat gizi daun turi terdiri atas; protein kasar 27,3%, energi kasar 4.825 kkal/kg, SDN 24,4%, lignin 2,7%, abu 7,5%, Ca 1,5% dan P 0,4%.

Salah satu kendala penggunaan daun turi sebagai pakan ternak adalah rendahnya produksi biomass dan tidak tahan terhadap pemangkasan. produksi daun turi pada musim kemarau (1,7 kg/pohon/3-4 bulan) dan musim hujan (4,1 kg/pohon/2-3 bulan). Akan tetapi, turi relatif tahan terhadap kekeringan sehingga sangat bermanfaat sebagai sumber pakan kambing pada musim kemarau. Pada musim kemarau, dimana rumput sangat sulit didapatkan, turi masih tumbuh subur dan berproduksi dengan baik. Pemetikan daun turi tidak dilakukan secara total, namun dipetik sebagian besar daunnya dan menyisakan daun pada pucuknya agar pohon turi tidak mati.

Turi seperti halnya gliricidia dapat dibudidayakan melalui biji dan ada juga jenis turi yang dapat dibudidayakan dari stek batangnya. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaannya, daun turi sebaiknya diberikan pada saat kebutuhan zat-zat makanan meningkat secara drastis, terutama pada akhir kebuntingan, awal laktasi dan Sampai pada masa pertumbuhan. 


3. Gamal  ( Gliricidia Maculate ) 
Gamal merupakan adalah jenis tanaman yang sangat mudah untuk dikembang biakan. Jika ingin menanam gamal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.  Yang pertama adalah memilih lahan yang cocok untuk tanaman ini. Gamal memang merupakan salah satu tanaman yang multi guna. Khusus sebagai pakan ternak hewan ruminansia terutama sapi, Gamal adalah kombinasi dan partner yang baik bagi rumput gajah (Pennisetum purpureum). Penanaman dapat dilakukan secara berselang seling baris dengan rumput Gajah dengan metoda alley cropping atau ditanam memanjang sebagai pagar hidup. Dengan cara ini manfaat yang diperoleh dapat berlipat ganda. Selain pupuk hijau, penahan angin juga sebagai bank protein bagi ternak ruminansia. Keunggulan lain dari gamal adalah kemampuan adaptasi yang sangat luas terhadap berbagai kondisi tanah dan klimat, mudah ditanam, dan mampu memproduksi biomasa yang cukup besar, selaras dengan kandungan nutrisi dan protein yang sangat tinggi.

Sedangkan kandungan racun dan zat anti nutrisi terutama bagi ternak monogastrik, walaupun perlu diwaspadai, merupakan kendala kecil bagi pemanfaatan gamal dibandingkan dengan manfaat yang bisa diperoleh. Apalagi dengan penanganan yang tepat (pelayuan/wilting) dan manajemen pakan yang baik, masalah ini dapat di minimalisir. Pun demikian kami tidak menyarankan untuk memberikan gamal pada ternak selain ruminansia.
Gamal juga merupakan tanaman yang tidak rewel dan relatif aman dari serangan hama. Ada literatur yang menyebutkan OPT berupa kutu kecil, aphid dan beberapa jenis serangga namun kerusakan yang ditimbulkannya tidak signifikan dan secara umum dapat diabaikan. Pemberian daun gamal (gliricidia) segar pada ternak ruminansia. dapat meningkatkan pertambahan bobot badan, penampilan, reproduksi dan produksi. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman leguminosa pohon tropis yang multi fungsi baik sebagai kayu bakar, tanaman pagar, pakan ternak dan pencegah erosi.

Sebagai pakan ternak ruminansia hijauan, gamal memiliki nilai gizi yang cukup baik yaitu 22,1% bahan kering, 23,5% protein dan 4200 Kcal/kg energi. Untuk mengurangi kadar kumarin yang menyebabkan aroma daun gamal tidak sedap, kadar kumarinnya bisa diturunkan melalui perlakuan pengeringan dengan sinar matahari antara 30-90 menit. Semakin lama waktu penjemuran, semakin banyak kumarin yang hilang. Proses pelayuan pada suhu kamar selama 24 jam dapat menghilangkan kadar kumarin sampai 77%. Pemberian ransum daun gamal secara kontinyu hingga 100% dan 100-200 g g/ekor/hari konsentrat berpengaruh positif pada domba ekor gemuk yang ditunjukkan dengan meningkatnya bobot badan, kinerja reproduksi dan produksi pada perkawinan kedua.
Walaupun sangat bermanfaat bagi ternak, tingkat racun dalam Gamal juga sudah dikenal sejak lama. Di Amerika Tengah, daun dan kulit kayu yang ditumbuk dicampur dengan rebusan biji jagung digunakan sebagai racun tikus dan racun binatang pengerat (rodenticidal). Di beberapa daerah pesisir Jawa Barat juga ditemukan penggunaan kulit batang dan biji Gamal sebagai campuran bahan pembuat racun ikan. Sekurangnya ada beberapa jenis komponen racun dalam Gamal.

Zat racun yang pertama adalah dicoumerol, suatu senyawa yang mengikat vitamin K dan dapat mengganggu serta menggumpalkan darah. Dicoumerol diperkirakan merupakan hasil konversi dari coumarin yang disebabkan oleh bakteri ketika terjadi fermentasi. Meskipun coumarin tidak beracun, ketika berubah menjadi senyawa dicoumerol dapat berbahaya bagi pengonsumsinya, terutama pada ternak monogastrik seperti kelinci dan unggas. Fakta lapangan menunjukkan tidak banyak ternak ruminansia yang keracunan dicoumerol yang disebabkan oleh daun Gamal. Senyawa racun yang kedua adalah HCN (Hydro Cyanic Acid), sering disebut juga Prussic Acid, Asam Prusik atau Asam Sianida. Meskipun kandungan HCN dalam Gamal tergolong rendah, 4mg/kg, dibanding umbi singkong/ketela pohon yang dapat mencapai 50-100mg/kg namun hal ini perlu juga diwaspadai. Zat lain yang perlu diperhatikan adalah Nitrat (NO3). Sebetulnya nitrat itu sendiri tidak beracun terhadap ternak, tapi pada jumlah yang banyak dapat menyebabkan penyakit yang disebut keracunan nitrat (nitrate poisoning). Nitrate yang secara alamiah terdapat pada tanaman di rubah menjadi nitrit oleh proses pencernaan, pada gilirannya nitrit dikonversi menjadi amonia.

Amonia kemudian di konversi lagi menjadi protein oleh bakteri dalam rumen. Apabila ternak sapi mengkonsumsi banyak hijauan yang mengandung nitrat dalam jumlah besar, nitrit akan terakumulasi di dalam rumen. Nitrit sekurangnya 10 kali lebih beracun terhadap ternak sapi dibandingkan nitrat. Nitrit diserap kedalam sel darah merah dan bersaru dengan molekul pengangkut oksigen, hemoglobin sehingga membentuk methemoglobin. Sayangnya, methemoglobin tidak dapat membawa oksigen dengan efisien seperti hemoglobin, akibatnya detak jantung dan pernafasan ternak meningkat, darah dan lapisan kulit berubah warna menjadi biru kecoklat coklatan, otot gemetar, sempoyongan dan bila tidak segera ditangani dapat mati lemas. Selain itu, dalam Gamal juga terdapat molekul alkaloid yang belum dapat diidentifikasi dan senyawa pengikat protein yang juga tergolong zat anti nutrisi, tannin walaupun dalam konsentrasi yang cukup rendah dibandingkan Kaliandra (Calliandra calothrysus). Pun demikian, kasus-kasus keracunan pada pemakanan yang teratur sangat terbatas.

Bukti bukti diatas memang menunjukkan bahwa Gliricidia dapat menyebabkan keracunan pada ternak non-ruminansia, tapi fakta lapangan yang mendukung hal tersebut sangat sedikit. Bahkan menurut Lowry (1990), masalah utama dari Gliricidia bukan pada tingkat racunnya, tetapi pada tingkat kesukaan (palatability). Seperti telah dikemukakan diatas, ternak cenderung menolak daun Gamal baru dengan mengendusnya saja, belum dicicipi. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa masalahnya berasal dari suatu senyawa yang menghasilkan aroma yang menguap dan keluar dari permukaan daun dan tidak disukai ternak. Hal ini didukung oleh fakta lapangan yang kami temui.

Meskipun Gamal dapat diperbanyak dengan biji, tapi kami lebih sering menggunakan setek batang dalam usaha mengembangbiakan Gamal. Alasan pertama adalah, sulitnya mencari dan mengumpulkan biji Gamal. Di berbagai tempat yang kami temui, jarang pohon Gamal yang dapat tumbuh sampai besar, berbunga dan berbiji. Hal ini disebabkan Gamal sudah secara berkala di panen daun dan batangnya, jarang yang dapat tumbuh sampai berbunga dan berpolong. Alasan lain, perbanyakan dengan setek batang lebih mudah dan lebih cepat daripada melalui biji. Tanaman yang diperbanyak dengan setek sudah dapat dipanen perdana pada usia di bawah 1 tahun. Biasanya 8-10 bulan. Sedangkan pada tanaman biji, hasil biomasa baru dapat diperoleh pada usia sekira 2 tahun.

Penanaman setek lebih baik berasal dari batang bawah tanaman yang cukup usia (diatas 2 tahun), diameter batang cukup besar (diatas 4cm) dengan panjang setek bervariasi mulai dari 40cm sampai 1.5m. Jarak tanam juga bervariasi, antara 40 -50cm sampai dengan 1.5 – 5m tergantung kebutuhan Meskipun kadang-kadang menggugurkan daunnya pada musim kering dan kondisi udara dingin, Gamal dapat dikategorikan sebagai pohon yang selalu hijau (evergreen). Dapat dipanen setiap 3 – 4 bulan sekali, dengan hasil antara 1 – 2 kg hijauan basah per tanaman. Beberapa literatur menyebutkan waktu penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Namun kami mendapatkan sedikit masalah ketika curah hujan terlalu tinggi. Banyak setek tanaman menjadi busuk akibat curah hujan yang tinggi. Kami biasanya menanam pada tengah atau bahkan akhir musim hujan atau membuat guludan (raised bed) di sekitar lokasi penanaman apabila diperkirakan curah hujan tinggi. 


4 Comments

mank zhou @ 22/07/12 10.48

lamtoronya di kawasan sanggalangit banyak yang mati terserang penyakit, mohon info cara mengatasinya

Anonim @ 24/05/13 00.09

Salam kenal Pak, saya dari kelompok ternak Sida Mukti, Banyumas Jawa Tengah. Ingin menanyakan apa kami bisa membeli bibit rumput satarianya? Jika bisa bagaimana caranya? Terima kasih, Dedi S

http://mediafire.blogdetik.com/ @ 02/09/13 23.52

kalau memanfaatkan kebun kering bagusnya apa ya?

Puslitbang nak @ 07/02/15 23.10

http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/

Poskan Komentar

Mohon komentar mengenai blog ini, atas artikel, segala kekurangan dan kelebihan dalam blog ini demi kemajuan blog ini, Terimakasih...!

Posting Baru Posting Lama Beranda