RSS : Articles / Comments


Beternak Sapi Bali

12/14/2010, Posted by Kelompok Ternak Pucak Manik, No Comment

Pemerintah Departemen Pertanian Mencanangkan Program Swasembada daging, khusus daging sapi dicanangkan pada tahun 2005. Di Bali Kami Kelompok Ternak Pucak Manik sebagai Kelompok Tani Ternak Sapi Bali, yang kini merupakan salah satu proyek percontohan Pemerintah Provinsi Bali dalam sistem pertanian terintegrasi yang di bali lebih dikenal dengan istilah SIMANTRI atau Sistem Management Pertanian Terintegrasi dalam rangka mewujudkan visi bali organik, bali Clean dan Bali Mandara. 
Bali sebagai salah satu pemasok daging sapi secara nasional, menjadikan komoditi Sapi Bali sebagai komoditi penting bagi daerah lain, disamping bali sendiri mempertahankan Sapi Bali sebagai Plasma Nutfah Asli Indonesia dan menjaga kelestarian sapi bali.
Dalam mempertahankan populasi sapi bali dengan mengupayakan pengendalian pemotongan sapi betina produktif dan pemeliharaan sapi secara intensif dengan memasukkan teknologi tepat guna dan tetap berpedoman pada Sapta Usaha Peternakan.

1. PEMILIHAN BIBIT
Yang harus diperhatikan dalam pemilihan bibit adalah :
- Kondisi Sehat dan kuat
- Badan Lebar dan Dalam
- Pedagingnya Padat dan bentuk badannya kompak
- Ambingnya besar dan simetris, bila diraba terasa lunak
- Puting susunya cukup besar dan letaknya simetris
- Letak kaki belakang lebar dan kuat
- Bulu : bersih mata bercahaya
- Temperamennya aktif, tapi lembut

2. KANDANG

Adapun  Syarat kandang yang baik adalah :
- Cukup mendapat sinar matahari
- Mempunyai saluran pembuangan dan tempat penampungan kotoran yang memadai
- Terbuat dari bahan yang cukup kuat dan tahan lama
- Bila memungkinkan lantai kandang disemen dan diberi alas dengan jerami supaya hangat
- Kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum
- Lantai diusahakan agak miring kearah pantat sapi dan usahakan agar selalu kering dan hangat.
- Ukuran Kandang : Untuk 1 ekor Induk : 2 X 1,5 M

3. PAKAN 
Jenis Bahan Pakan yang diperlukan adalah :

pakan Hijauan, yakni bahan yang banyak mengandung serat kasar dengan nilai cerna yang rendah dan cukup protein seperti : Rumput gajah, rumput raja, bengala, setaria, dll. jenis-jenis legum seperti : gamal, turi, serta jenis daun-daunan dan jerami

Pakan hijauan diberikan 10% dari berat badan perhari, hijauan yang diberikan merupakan campuran antara rumput dan kacang-kacangan dengan perbandingan 2/3 bagian rumput, dengan 1/3 bagian kacang-kacangan, diberikan 2-3 kali sehari. 
Pakan penguat/pakan tambahan (kosentrat) yaitu campuran bahan yang disusun sedemikian rupa dan berfungsi untuk melengkapi kekurangan zat-zat makanan lainnya dalam pakan hijauan.
Jerami olahan yaitu jerami yang sudah difermentasi sehingga kadar proteinnya tinggi, cara pengolahan nya :
campurkan bahan-bahan sebagai berikut :
  • Jerami 1 ton dengan kadar air 60%
  • Dedak 6 kg
  • Urea
  • Fermentor Star Bio 2 Kg
Jerami dibeberkan dalam ruangan yang tidak kena sinar matahari langsung setebal 40 cm,  lalu taburi campuran diatas, lakukan berulang sampai jerami dan campuran habis kemudian ditutup dengan terpal. diamkan selama 2 minggu, setelah 2 minggu bongkar dan angin-anginkan, kemudian bisa diberikan pada ternak sapi sebagai pengganti rumput.
contoh pakan penguat tambahan seperti : dedak padi, jagung, bungkil kelapa, sisa sagu, dll. jumlah pemberian 1 % dari berat badan sapi /ekor per hari.

4. PEMELIHARAAN
Metode pemeliharaan sapi berdasarkan tujuan pemeliharaannya yaitu : sapi potong pembibitan, sapi potong kereman, sapi untuk ternak kerja.

4.1 PEMELIHARAAN SAPI POTONG PEMBIBITAN
Selain pemberian pakan yang baik pemeliharaan kesehatan dalam pemeliharaan sapi induk perlu juga diperhatikan sistem perkawinannya sehingga induk dapat melahirkan setiap 12 - 18 bulan.
Pemeliharaan sapi induk bunting faktor pakan dan pemeliharaan sapi harus diperhatikan dengan baik, berikan pakan penguat sebanyak 2-3 kg/ekor/hari + mineral, tempatkan sapi dikandang tersendiri agar sapi merasa tenang, pelihara kebersihan kandang alasi lantainya dengan jerami rumput kering.
Pemeliharaan anakan sapi :
- Setelah anak sapi lahir, segera bersihkan lendir yang menempel pada tubuhnya, terutama bagian hidung dan mulut.
- Potong tali pusarnya dan olesi dengan yodium
- Biarkan anak sapi menyusu pada induknya sampai 4 bulan
- Mulai diperkenalkan dengan kosentrat pada umur 3 bulan

4.2 PEMELIHARAAN SAPI POTONG KEREMAN
Yang perlu mendapat perhatian dalam pemeliharaan sapi potong kereman adalah : memilih sapi untuk dikerem, ada 4 patokan dalam memilih sapi untuk dikerem, diantaranya :
  1. Sapi yang berumur kurang dari satu tahun yang akan diperlukan masa kerem selama 8-12 bulan
  2. Sapi yang berumur 1-2 tahun dengan masa kerem 6-8 bulan
  3. Sapi yang berumur 3 tahun keatas dengan masa kerem maksimal 4 bulan.
Selain dari segi umur, juga perlu dipertimbangkan dari bentuk tubuh sapi yang akan dikerem dapat dipilih sapi kurus tapi bukan karena penyakit, kurus dalam arti kurang makan dan perawatan. berat ideal sapi yang akan dikerem minimal 200kg.
Pemberian Kosentrat berupa dedak padi, UMMB sebanyak 1 Kg/hari akan memberikan pertambahan berat badan rata-rata 500-600 gram/hari.
4.3 PEMELIHARAAN SAPI POTONG UNTUK KERJA
Pada model pemeliharaan ini hendaknya perlu diperhatikan :
Ternak sapi tidak dikerjakan pada waktu tertentu sebagai berikut :
  • Satu Bulan Setelah dikawinkan
  • Dua Bulan Sebelum Melahirkan
  • Satu Bulan Setelah Melahirkan
  • Pengelolaan Reproduksi
Kawainkan sapi betina pertama kali pada umur 15-20 bulan, sedangkan yang jantan pada umur 15-24 bulan.
Bila sapi menunjukkan tanda-tanda birahi, kawinkan sapi dalam rentang waktu 12-18 Jam. perkawinan dinyatakan berhasil bila sapi memperlihatkan tanda-tanda : Tidak muncul birahi pada periode berikutnya, sapi kelihatan lebih tenang, nafsu makan dan minum bertambah, rongga perut bertambah besar.
kebuntingan sapi rata-rata berlangsung selama 283 hari.
 
5. PENGENDALIAN PENYAKIT
Beberapa Jenis Penyakit Yang perlu diwaspadai dalam pengelolaan ternak sapi diantaranya :
5.1. NGOROK ( SE)
Gejala-Gejala :
  1. Demam Tinggi badan lemah dan gemetar 
  2. Banyak Keluar Air Liur
  3. Pembengkakan di leher, pundak kaki depan, dan lidah
  4. penyempitan saluran pernafasan sehingga sulit bernafas.
Pencegahan dengan pemberian Vaksin SE
Pengobatan dengan menggunakan anti biotik dan sulfa

5.2. RADANG KUKU (FOOT ROT)
Gejala-Gejala : 
Pembengkakan pada kuku dan sekitarnya, tumit kuku mengelupas dan timbul bisul, ternak pincang, dan bisa lumpuh
Pencegahan :
lantai kandang harus selalu kering, kuku yang membusuk harus dipotong, dibersihkan dengan larutan betadine dan dibalut, hal ini diulang setiap minggu.

5.3. PERUT KEMBUNG / BLOAT (TYMPANY)
Gejala-Gejala :
Lambung bagian kiri membesar, nafsu makan berkurang atau hilang sama sekali, sapi gelisah, sesak nafas, bila berbaring susah berdiri.
Pencegahan :
jangan terlalu banyak memberikan hijauan yang mengandung air, beri pakan kasar dan jerami kering untuk mengeluarkan gas diberikan larutan gula dan air asam

6. PEMASARAN
Sukses Produksi harus diikuti dengan sukses pemasaran, untuk pemasaran sangat dipengaruhi oleh situasi pasar terutama kebutuhan daging sapi pada menjelang hari-hari raya.


7. PENANGANAN PASCA PANEN
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2. Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakansekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemarseminimal mungkin.
 

PRODUK TAMBAHAN DARI PUPUK
Dalam peternakan sapi, seperti sudah disinggung pada bagian terdahulu, selain daging sebagai main product, dapat juga dihasilkan pupuk sebagai produk sampingan (by-product) nya, yang dapat berupa pupuk cair dan pupuk padat. Kedua jenis pupuk ini dapat digolingkan kepada jenis pupuk organik. Berbagai kelebihan diperoleh dari pupuk organik antara lain :
1. Karena bentuknya cair, aplikasinya lebih mudah, karena bisa dilakukan dengan penyemprotan, dan pada tanaman pohon tidak harus membuat lubang pada tanah.
2. Bahan baku pupuk organik bisa bertambah tidak hanya dari kotoran (faeces) tapi juga dari kencing ternak.
3. Volume penggunaanya lebih hemat dibandingkan pupuk kompos. Untuk tanaman padi, jika pupuk kompos (padat) perhektar memerlukan 2,5 - 5 ton, maka dengan pupuk cair hanya memerlukan 1,2 ton permusim.
Satu ekor sapi memproduksi rata-rata 5 liter urin setiap hari, sehingga instalasi bio urin yang berisi 10 ekor sapi menghasilkan pupuk organik cair sebanyak 500 liter per sekali proses (satu kali proses butuh waktu 10 hari). Dampak aplikasi pupuk organik ini cukup menggembirakan pada tanaman bawang merah. Pada proses produksi pupuk organik cair ini, menggunakan fermentor RB dan Azba produksi BPTP Bali. Demikian halnya dengan kotoran sapi. Untuk menjadi pupuk organik siap pakai secara alami membutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Untuk mempercepat proses pengomposan diperlukan fermentor dan tempat fermentasi seperti untuk menghindarkan kompos yang dihasilkan terkena air hujan dan terkena sinar matahari langsung.

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali

No Comment

Poskan Komentar

Mohon komentar mengenai blog ini, atas artikel, segala kekurangan dan kelebihan dalam blog ini demi kemajuan blog ini, Terimakasih...!

Posting Baru Posting Lama Beranda