RSS : Articles / Comments


Pemanasan Global & Perubahan Iklim

3/18/2010, Posted by Kelompok Ternak Pucak Manik, No Comment

Bumi merupakan tempat tinggal bagi kehidupan, baik manusia maupun mahluk hidup yang lainnya dimana kita sebagai manusia memiliki sifat ketergantungan dan keterkaitan dengan alam dan lingkungan maka sudah seharusnyalah kita menjaga dengan penuh kesungguh-sungguhan, agar kehidupan di muka bumi ini terus berlangsung dengan baik.

Bumi ini untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang inilah yang penting untuk dibicarakan, dimana bumi yang melibatkan persoalan lingkungan hidup sebagai bagian yang tidak boleh dilupakan.

Kualitas lingkungan hidup semakin menurun dari hari ke hari, Bumi telah menjadi lebih hangat sekitar 1ºF (0.5ºC) dari 100 tahun yang lalu. Tapi mengapa ? dan bagaimana ? bumi bisa saja menjadi hangat secara alami, tetapi banyak ahli iklim dunia yang percaya bahwa tindakan manusia telah membantu membuat bumi menjadi lebih hangat. Internasionalisasi modal telah menjadi ancaman paling besar terhadap bumi dan lingkungan hidup secara lebih khusus. Watak dasar kapitalisme yang eksploitatif dan akumulatif telah menjadi ancaman terbesar bagi bumi dan lingkungan hidup. Eksploitasi tambang, mineral, gas, hutan, laut, air untuk mengejar apa yang dinamakan sebagai pertumbuhan ekonomi, telah menyebabkan sebuah kerja keras habi - habisan tanpa terkendali.


Kondisi bumi yang ditandai oleh kerusakan lingkungan hidup memperlihatkan keadaan yang semakin parah. Bencana sebagai akibat ketidakseimbangan dan berkurangnya kemampuan bumi dalam melindungi dirinya, hilangnya kemampuan lingkungan untuk mengimbangi watak eksploitatif para pemburu harta dan kekayaan bumi telah membawa bencana hebat.

Bencana alam akibat kerusakan yang ditimbulkan manusia telah melanda seluruh belahan dunia. Kekeringan panjang yang melanda dimusim kemarau, dengan segala dampak ikutan seperti kebakaran hutan, mengeringnya sumber-sumber air bersih di daerah pemukiman, meningkatnya suhu udara sehingga menimbulkan gelombang panas. yang kerap kali berulang di berbagai daerah di Indonesia dan belahan dunia selama dekade belakangan ini.
Hal ini sering dikaitkan dengan pengaruh dari pemanasan global dan pengaruh penipisan lapisan ozon yang menurut para ahli disebapkan oleh ulah manusia yang merusak lingkungan.

GAS-GAS RUMAH KACA
Gas-gas Rumah Kaca atau Greenhouse Gases adalah gas-gas yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Selain uap air (H2O) dan karbon dioksida (CO2), terdapat gas rumah kaca lain di atmosfer, dan yang terpenting berkaitan dengan pencemaran dan pemanasan global adalah metana (CH4), ozon (O3), dinitrogen oksida (N2O), dan chlorofluorocarbon (CFC) Gas Rumah Kaca dapat terbentuk secara alami maupun sebagai akibat pencemaran.

Gas Rumah Kaca di atmosfer menyerap sinar inframerah yang dipantulkan oleh bumi. Peningkatan kadar gas rumah kaca akan meningkatkan efek rumah kaca yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Adapun jenis-jenis dari gas rumah kaca tersebut adalah uap air, karbon dioksida, metana, ozon, dinitrogen oksida atau nitrat oksida dan Chlorofluorocarbon (CFC).

PENGARUH EMISI GAS RUMAH KACA PADA PEMANASAN GLOBAL

Secara alamiah sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar matahari yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti bumi disebut gas rumah kaca sehingga sinar tersebut terperangkap dalam bumi.
Peristiwa ini dikenal dengan efek rumah kaca (ERK) karena peristiwanya sama dengan rumah kaca, dimana panas yang masuk akan terperangkap di dalamnya, tidak dapat menembus ke luar kaca.

Peristiwa alam ini menyebabkan bumi menjadi hangat dan layak ditempati manusia, karena jika tidak ada efek rumah kaca maka suhu permukaan bumi akan 33oCelcius lebih dingin. Gas Rumah Kaca (GRK) yang berada di atmosfer dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu gas rumah kaca juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan peternakan. gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida, menyebabkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Berubahnya komposisi gas rumah kaca di atmosfer, yaitu meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca secara global akibat kegiatan manusia menyebabkan sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa, sebagian besar terperangkap di dalam bumi akibat terhambat oleh gas rumah kaca tadi. Meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer pada akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi, yang kemudian dikenal dengan Pemanasan Global.

Pemanasan Global adalah fenomena naiknya suhu permukaan bumi karena meningkatnya efek rumah kaca. Efek rumah kaca di atmosfer meningkat akibat adanya peningkatan kadar gas-gas rumah kaca, antara lain karbon dioksida, metana, ozon. Pemanasan global atau Global Warming mempunyai dampak yang sangat besar bagi dunia dan kehidupan makhluk hidup, yaitu perubahan iklim dunia dan kenaikan permukaan air laut

Menurut beberapa pakar, bumi saat ini telah memasuki masa pemanasan global karena enam tahun terpanas dalam 100 tahun semuanya jatuh pada tahun 1980-an yaitu, dari yang tertinggi sampai terendah, tahun 1988, 1987, 1983, 1981, 1980, dan 1986

Sumbangan utama terhadap jumlah karbon dioksida di atmosfer berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yaitu minyak bumi, batu bara dan gas bumi. Pembakaran bahan-bahan tersebut menambahkan 18,35 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer tiap tahun. (18,35 miliar ton karbon dioksida = 18,35 x 1012 atau 18.350.000.000.000 kg karbon dioksida!) Dari konsumsi energi dunia saat ini (tidak termasuk kayu bakar), sedikit di bawah 40 persen adalah minyak bumi, 27 persen batu bara, dan 22 persen gas bumi, sementara listrik tenaga air dan nuklir merupakan 11 persen sisanya.

Selain merupakan bahan bakar fosil yang menghasilkan pencemaran paling tinggi, batu bara juga menghasilkan karbon dioksida terbanyak per satuan energi. Membakar 1 ton batu bara menghasilkan sekitar 2,5 ton karbon dioksida. Untuk mendapatkan jumlah energi yang sama dari minyak, jumlah karbon dioksida yang dilepas akan mencapai 2 ton dan dari gas bumi hanya 1,5 ton. Kayu lebih parah lagi, yaitu melepaskan 3,4 ton karbon dioksida untuk menghasilkan jumlah energi yang sama dengan membakar satu ton batu bara.

Pelepasan atau emisi karbon dioksida ke atmosfer menyebabkan kadar gas rumah kaca di atmosfer meningkat, sehingga terjadi peningkatan efek rumah kaca dan pemanasan global.

AKIBAT PEMANASAN GLOBAL
Pemanasan global merupakan akibat dari meningkatnya kadar gas rumah kaca, sehingga suhu bumi naik. Pemanasan global adalah proses perubahan keadaan yang berjalan sangat lambat. Dampak utama dari pemanasan global adalah perubahan iklim global yang akan mengakibatkan antara lain peningkatan permukaan air laut, penurunan hasil panen pertanian dan perikanan, perubahan keanekarangam hayati.

1. Perubahan Iklim Global
Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa sejumlah kejadian alam selama ini memberikan tanda-tanda kuat bahwa iklim mulai tidak stabil. Pada 1987, misalnya, tercatat suhu tinggi pemecah rekor terjadi di Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara. Rekor ini kembali dipecahkan di daerah-daerah tersebut pada tahun berikutnya. Juga pada 1987 terjadi banjir besar di Korea, Bangladesh, dan di Kepulauan Maladewa (Maledives) akibat ombak pasang. Pada tahun berikutnya, Bangladesh mengalami banjir lagi, dan pada awal 1991 banyak korban jiwa akibat angin puyuh.

Daftar bencana alam ini masih dapat diperpanjang. Walaupun belum ada bukti langsung yang mengkaitkan kejadian-kejadian di atas dengan pemanasan global, atau belum ada indikasi bahwa iklim menjadi lebih mudah berubah, kejadian-kejadian tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja.

2. Kenaikan Permukaan Air Laut

Salah satu akibat pemanasan global adalah dapat mencairnya es di Kutub Utara dan Kutub Selatan. Pencairan es tersebut menyebabkan naiknya permukaan air laut. Banyak kawasan pertanian subur dan berpenduduk paling padat di dunia terletak di daratan rendah sepanjang pantai. Peningkatan permukaan air laut memperbesar resiko banjir, hal ini terutama berlaku jika pemanasan global dikaitkan dengan terjadinya badai dan topan yang ganas. Banyak negara berkembang sangat bergantung pada industri pariwisata. Salah satu daya tariknya ialah pantai-pantai pasir yang luas dan bersih. Untuk gambaran kasarnya, jika terjadi peningkatan permukaan air laut setinggi 10 Cm, berarti hilangnya sekitar 10 meter pantai.

Meningkatnya permukaan air laut mendorong batas antara air asin dan air tawar di muara sungai lebih jauh ke daratan. Peningkatan setinggi 10 Cm akan cenderung mengakibatkan penembusan air laut sekitar satu kilometer lebih jauh ke darat dalam muara datar. Penembusan air asin ke dalam cadangan air tawar dapat menjadi masalah serius ketika permukaan air laut naik.

Pemanasan global tidak selamanya berakibat buruk, peningkatan temperatur laut ternyata memperluas luas terumbu karang di Karibia. Beberapa jenis terumbu karang justru tumbuh dengan sumbur. Hal ini terungkap dari pertemuan tahunan perhimpunan ahli geologi di Seattle, Washington.

Sekurang-kurangnya satu marga terumbu karang Karibia, Acropora, tampaknya telah tercatat sebagai marga yang "menikmati" efek pemanasan global. Suhu laut yang lebih hangat memperluas pertumbuhan karang ini ke arah utara, seperti yang pernah terjadi di masa silam. Pada tahun 1998, sampel hidup terumbu karang ditemukan di daerah dekat Fort Lauderdale, Florida, AS dan pada tahun 2002 juga ditemukan di bagian utara teluk Meksiko sepanjang pesisir Texas. Selain itu, pertumbuhan terumbu karang ke arah utara juga ditemukan di daerah perairan Pasifik.

Precht menemukan bukti pertumbuhan terumbu karang di atas di sepanjang pesisir Fort Lauderlade (karang yang pernah ditabrak kapal selam nuklir AS). Tabrakan ini membongkar karang-karang fosil, yaitu Acropora. Saat ini, karang Acropora tumbuh di daerah Miami yang berjarak 50 Km dari tempat tabrakan. Uji umur terumbu dengan radiokarbon menunjukkan, terumbu karang ini berumur 7.000 tahun. Seperti diketahui, 9.000 - 4.000 tahun lalu, suhu laut Atlantik adalah 2 - 4 0C lebih hangat dari suhu laut saat ini.

3. Penurunan Hasil Panen Pertanian dan Perikanan
Jika iklim berubah seperti yang diramalkan, kemungkinannya bermacam-macam dan bahkan bisa suram. Penurunan curah hujan jelas akan merupakan bencana bagi petani miskin di daerah kering, misalnya di Afrika, Brasil, Pakistan serta India, dan dampak tersebut tidak terbatas pada daerah kering saja.

Sebagai contoh: Pemanasan global dapat membuat daerah Barat-Tengah Amerika Serikat menjadi lebih panas dan berangin. Apa yang dapat terjadi sudah dirasakan ketika kekeringan dan suhu tinggi pada 1988 menurunkan hasil panen gabah sebesar 30 persen. Penurunan hasil panen seperti ini, jika berlangsung terus, hampir pasti akan berakibat serius bagi negara berkembang serta negara-negara lain yang bergantung pada impor gabah dari Amerika Serikat.

Para petani dimanapun telah menunjukkan diri mampu melakukan penyesuaian diri untuk menanggapi perubahan keadaan. Mereka bersiap mengganti tanaman ketika pasar berubah, menerapkan jenis biji baru ketika mereka melihat bahwa jenis tersebut lebih menguntungkan, mengubah teknik bertani, atau mengambil langkah apapun yang mungkin meningkatkan keamanan atau pendapatan mereka. Tetapi penyesuaian diri demikian memerlukan waktu dan uang. Jika dunia sedang menuju ke abad yang suhu globalnya meningkat terus, kecepatan dan kelanjutan perubahan akan meletakkan beban berat pada para petani di mana-mana.

Walaupun begitu, tidak seluruh kemungkinan negatif. Misalnya, ada kemungkinan bahwa kondisi di beberapa daerah akan menjadi lebih menguntungkan bagi tanaman pertanian daripada sekarang. Bagi para petani anggur di daerah dingin, fenomena itu barangkali berkah tersendiri karena anggur mereka menjadi lebih enak. Para peneliti dari tiga universitas di AS menemukan bahwa tanaman anggur menghasilkan lebih banyak buah yang baik seiring dengan naiknya suhu udara selama 50 tahun terakhir ini, terutama di wilayah beriklim dingin. Sebaliknya, temuan itu bisa jadi merupakan masalah bagi kebun-kebun anggur di wilayah panas.

Iklim adalah penentu mutu anggur yang dihasilkan kata Gregory Jones, ahli iklim dan cuaca di Southern Oregon University. "Mereka yang berada di wilayah dingin kebanyakan akan suka bila suhu mulai menghangat." Jones bersama dengan para peneliti dari Utah State University dan Universitas Colorado, meneliti 27 perkebunan anggur di sembilan negara. Menggunakan sistem pengukuran rasa anggur yang biasa dipakai di balai lelang Sotheby, mereka menemukan bahwa kebanyakan anggur memiliki rasa lebih enak seiring dengan naiknya temperatur udara sekitar 1,3o Celcius selama 50 tahun ini.

Efek itu sangat terasa terutama di wilayah-wilayah beriklim dingin, seperti di lembah Mosel dan Rhine di Jerman. Suhu yang lebih hangat daripada sebelumnya di tempat itu, ternyata berdampak pada meningkatnya mutu anggur yang dihasilkan. Menurut penelitian yang akan dipublikasikan di journal Climatic Change edisi mendatang, kenaikan suhu sekitar 2 derajat Celcius pada setengah abad mendatang, diperkirakan akan menghasilkan anggur yang makin baik. Disebutkan juga, daerah-daerah pertanian anggur yang beriklim dingin seperti Oregon, Washington dan British Columbia, bakal mendapat keuntungan dari pemanasan global yang terjadi saat ini.

Sebaliknya wilayah-wilayah hangat seperti Chianti di Italia, justru bakal menghadapi masalah dimana anggur akan masak terlalu cepat karena suhu yang lebih panas. Anggur yang masak terlalu cepat, biasanya akan menghasilkan minuman anggur dengan kadar gula lebih tinggi, dengan alkohol lebih banyak, namun keseimbangan dan keasamannya rendah.
Kenaikan suhu ini juga akan memaksa para petani anggur mengelola kebunnya dengan cara berbeda untuk menghasilkan anggur-anggur dengan rasa khas seperti sebelumnya, atau mungkin mereka harus menanam jenis anggur lain yang lebih sesuai dengan iklim baru ini.
"Di beberapa wilayah perubahan suhu itu sangat merugikan. Petani-petani di Italia bagian Selatan dan Yunani harus berjuang keras untuk menghasilkan anggur yang baik tahun ini," kata Jones. "Namun di Inggris selatan, para petani barangkali akan menghasilkan anggur terbaik sejak jaman es

Satu calon bagi perbaikan iklim demikian adalah Republik Rusia, bekas bagian dari Uni Soviet. Diperkirakan bahwa suhu yang lebih tinggi disertai peningkatan curah hujan yang mungkin terjadi akan meningkatkan hasil gabah sampai 50 persen. Ini akan memungkinkan bagi Uni Soviet untuk menjadi salah satu pengekspor gabah terbesar, dan tidak lagi bergantung pada impor dari Amerika Serikat.

Terumbu karang merupakan ekosistem planet yang paling beragam. Satu terumbu dapat mendukung sebanyak 3000 spesies kehidupan laut. Terumbu terutama rentan terhadap perubahan apapun dalam lingkungannya. Kondisi ekstrem dapat menyebabkan ganggang simbiotik yang peka, pemberi warna dan makanan pada karang akan terlepas keluar. Jika hal ini terjadi, kerangka kapur dari karang akan terkelupas, sehingga memberi warna keputihan. Karang biasanya mendapatkan kembali ganggang setelah kejadian tersebut, tetapi kejadian yang berulang dan lama akan mencegah pertumbuhan dan reproduksi karang dan lambat-laun akan membunuh mereka.

4. Perubahan Keanekaragaman Hayati
Setiap jenis tumbuhan dan hewan hanya dapat hidup dalam satu wilayah atau iklim yang sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai contoh: Jenis pohon tertentu sesuai tumbuh di daerah curah hujan dan suhu savana. Jika iklim menjadi lebih panas dan lebih kering, pohon ini kalah dibandingkan semak rendah yang jarang tumbuhnya dan dapat hidup dalam iklim lebih keras. Jenis pohon ini akan digantikan secara alami oleh jenis lain yang lebih mampu menyesuaikan diri dengan iklim baru.

Jika perubahannya lambat, akan terjadi penyesuaian diri secara bertahap terhadap iklim baru, seperti yang telah terjadi masa lalu. Diperkirakan jika kondisi yang lain tetap, tumbuh-tumbuhan perlu pindah 100 - 150 km ke arah kutub.

5. Kesehatan Manusia
Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka.

Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, demam dengue (demam berdarah), demam kuning, dan encephalitis.

Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.

Download :
- PAPER PENGARUH EMISI GAS RUMAH KACA DAN PEMANASAN GLOBAL
- SLIDE PENGARUH EMISI GAS RUMAH KACA DAN PEMANASAN GLOBAL

    No Comment

    Poskan Komentar

    Mohon komentar mengenai blog ini, atas artikel, segala kekurangan dan kelebihan dalam blog ini demi kemajuan blog ini, Terimakasih...!

    Posting Baru Posting Lama Beranda